Sebagaimana Islam telah membenarkan
seorang muslim menggunakan uangnya secara perorangan dalam usaha-usaha yang
mubah, dan sebagaimana dibolehkannya seorang muslim untuk menyerahkan modalnya
kepada orang yang ahli dengan cara mudharabah, maka begitu juga Islam memberi
perkenan kepada para pemilik modal untuk mengadakan syirkah dalam suatu usaha
apakah berupa perusahaan atau perdagangan dan sebagainya. Sebab di antara
pekerjaan-pekerjaan dan projek-projek ada yang sangat membutuhkan banyak
fikiran, tenaga dan modal. Sedang seseorang itu dinilai kecil apabila sendirian,
tetapi dinilai banyak kalau bersama yang lain.
Untuk ini maka berfirmanlah
Allah:
"Dan tolong-menolonglah kamu atas kebaikan dan tagwa." (al-Maidah: 3)
Semua perbuatan dan sikap hidup yang
menguntungkan seseorang atau masyarakat atau yang kiranya dapat melindungi
seseorang dari marabahaya, dipandang sebagai perbuatan baik dan taqwa kalau
disertai dengan niat yang baik.
Islam tidak hanya sekedar memberikan
perkenan syirkah ini, bahkan akan memberkati pekerjaan tersebut dengan suatu
pertolongan dari Allah di dunia ini dan pahala kelak di akhirat, selama dalam
memutarkan roda pekerjaan ini mengikuti jalan yang dihalalkan Allah, tidak
dengan riba, ghurur, zalim dan khianat dengan segala macamnya.
Dalam hal ini Rasulullah s.a.w, pernah
bersabda sebagai berikut:
"Tangan Allah bersama dua orang yang berserikat, selama salah satu pihak tidak, berkhianat kepada yang lain; apabila salah satu pihak ada yang mengkhianati kawannya, maka tanganNya itu akan ditarik dari keduanya." (Riwayat Daraquthni)
Tangan Allah di sini adalah sebagai kata
sindiran (kinayah), yakni pertolongan dan barakah.
Dalam hadis Qudsi, Allah
mengatakan:
"Saya adalah ketiga dari dua orang yang bersyarikat itu, selama salah satu pihak tidak mengkhianati kawannya; jika salah satu mengkhianati kawannya, maka saya akan keluar dari antara mereka berdua itu." (Riwayat Abu Daud dan Hakim dan ia sahkannya)
Ibnu Razin dalam kitab Jami'nya
menambahkan: (dan akan datang syaitan).
Halal & Haram Dalam Islam
Dr. Yusuf Al-Qardhawi
Kunjungi juga:

Komentar
Posting Komentar