KEPERCAYAAN yang baik, landasan pokok
bagi masyarakat Islam. Tauhid inti daripada kepercayaan tersebut dan jiwa
daripada Islam secara keseluruhannya. Oleh karena itu melindungi kepercayaan dan
tauhid, adalah pertama-tama yang dilakukan oleh Islam dalam perundang-undangan
maupun da'wahnya.
Begitu juga memberantas kepercayaan
jahiliah yang dikumandangkan oleh polytheisme yang sesat itu, suatu perintah
yang harus dikerjakan demi membersihkan masyarakat Islam dari noda-noda syirik
dan sisa-sisa kesesatan.
4.1.1 Nilai Sunnatullah dalam Alam Semesta
Pertama kali aqidah yang ditanamkan
Islam dalam jiwa pemeluknya, yaitu: bahwa alam semesta yang didiami manusia di
permukaan bumi dan di bawah kolong langit tidak berjalan tanpa aturan dan tanpa
bimbingan, dan tidak juga berjalan mengikuti kehendak hawa nafsu seseorang.
Sebab hawa nafsu manusia, karena kebutaan dan kesesatannya, selalu
bertentangan.
Firman Allah:
"Andaikata kebenaran itu mengikuti hawa nafsu mereka, niscaya akan rusaklah langit dan bumi serta seluruh makhluk yang ada di dalamnya." (al-Mu'minun: 71)
Namun perlu dimaklumi, bahwa alam ini
dikendalikan dengan undang-undang dan hukum yang tetap, tidak pernah berubah dan
berganti, sebagaimana telah dinyatakan oleh al-Quran dalam beberapa ayat, antara
lain sebagai berikut:
"Kamu tidak akan menjumpai sunnatullah itu berganti." (Fathir: 43)
Kaum muslimin telah belajar dari
kitabullah dan sunnah Rasul supaya menjunjung tinggi sunnatullah yang berbentuk
alam semesta ini dan mencari musabab yang diperoleh dari sebab-sebab yang telah
diikatnya oleh Allah, serta supaya mereka menolak apa yang dikatakan sebab yang
sekedar dugaan semata yang biasa dilakukan oleh para biksu, ahli-ahli khurafat
dan pedagang agama.
Memberantas Ramalan dan Khurafat
Nabi Muhammad s.a.w. datang dan
dijumpainya di tengah-tengah masyarakat ada sekelompok manusia tukang dusta yang
disebut kuhhan (dukun) dan arraf (tukang ramal). Mereka mengaku dapat mengetahui
perkara-perkara ghaib baik untuk masa yang telah lalu maupun yang akan datang,
dengan jalan mengadakan hubungan dengan jin dan sebagainya.
Justru itu Rasulullah s.a.w. kemudian
memproklamirkan perang dengan kedustaan yang tidak berlandaskan ilmu, petunjuk
maupun dalil syara'.
Rasulullah membacakan kepada mereka
wahyu Allah yang berbunyi:
"Katakanlah! Tidak ada yang dapat mengetahui perkara ghaib di langit dan di bumi melainkan Allah semesta." (an-Naml: 65)
Bukan Malaikat, bukan jin dan bukan
manusia yang mengetahui perkara-perkara ghaib.
Rasulullah juga menegaskan tentang
dirinya dengan perintah Allah s.w.t. sebagai berikut:
"Kalau saya dapat mengetahui perkara ghaib, niscaya saya dapat memperoleh kekayaan yang banyak dan saya tidak akan ditimpa suatu musibah; tidak lain saya hanyalah seorang (Nabi) yang membawa khabar duka dan membawa khabar gembira untuk kaum yang mau beriman." (al-A'raf: 188)
Allah memberitakan tentang jinnya Nabi
Sulaiman sebagai berikut:
"Sungguh andaikata mereka (jin) itu dapat mengetahui perkara ghaib, niscaya mereka tidak kekal dalam siksaan yang hina." (Saba': 14)
Oleh karena itu, barangsiapa mengaku
dapat mengetahui perkara ghaib yang sebenarnya, berarti dia mendustakan Allah,
mendustakan kenyataan dan mendustakan manusia banyak.
Sebagian utusan pernah datang ke tempat
Nabi, mereka menganggap bahwa Nabi adalah salah seorang yang mengaku dapat
mengetahui perkara ghaib. Kemudian mereka menyembunyikan sesuatu di tangannya
dan berkata kepada Nabi: Tahukah tuan apakah ini? Maka Nabi menjawab dengan
tegas:
"Aku bukan seorang tukang tenung, sebab sesungguhnya tukang tenung dan pekerjaan tenung serta seluruh tukang tenung di neraka."
Halal & Haram Dalam Islam
Dr. Yusuf Al-Qardhawi
Kunjungi juga:
Komentar
Posting Komentar