Lanjutan:
Keenam, juga termasuk doktrin
ajaran tasawuf yang sesat adalah apa yang mereka namakan sebagai suatu
keadaan/tingkatan yang jika seseorang telah mencapainya maka dia akan terlepas
dari kewajiban melaksanakan syariat Islam. Keyakinan ini muncul sebagai hasil
dari perkembangan ajaran tasawuf, karena asal mula ajaran tasawuf –sebagaimana
yang diterangkan oleh Ibnul Jauzi- adalah melatih jiwa dan menundukkan watak
dengan berupaya memalingankannya dari akhlak-akhlak yang jelek dan membawanya
pada akhlak-akhlak yang baik, seperti sifat zuhud, tenang, sabar, ikhlas dan
jujur.
Kemudian Ibnul Jauzi mengatakan:
“Inilah asal mula ajaran tasawuf yang dipraktekkan oleh pendahulu-pendahulu
mereka, kemudian Iblis mulai memalingkan dan menyesatkan mereka dari generasi ke
generasi berikutnya dengan berbagai macam syubhat (kerancuan) dan talbis
(pencampuradukan), kemudian penyimpangan ini terus bertambah sehingga Iblis
berhasil dengan baik menguasai generasi belakangan dari orang-orang ahli
tasawuf. Pada mulanya, dasar upaya penyesatan yang diterapkan oleh Iblis kepada
mereka adalah memalingkan mereka dari (mempelajari) ilmu agama dan mengesankan
kepada mereka bahwa tujuan utama adalah (semata-semata) beramal (tanpa perlu
ilmu), dan ketika Iblis telah berhasil memadamkan cahaya ilmu dalam diri mereka,
mulailah mereka berjalan tanpa petunjuk dalam kegelapan/kesesatan, maka di
antara mereka ada yang dikesankan padanya bahwa tujuan utama (ibadah) adalah
meninggalkan urusan dunia secara keseluruhan, sampai-sampai mereka meninggalkan
apa-apa yang dibutuhkan oleh tubuh mereka, bahkan mereka menyerupakan harta
dengan kalajengking, dan mereka lupa bahwa Allah ‘Azza wa Jalla
menjadikan harta bagi manusia untuk kemaslahatan mereka, kemudian mereka
bersikap berlebih-lebihan dalam menyiksa diri-diri mereka, sampai-sampai ada di
antara mereka yang tidak pernah tidur (sama sekali).
Meskipun niat mereka baik (sewaktu
melakukan perbuatan ini), akan tetapi (perbuatan yang mereka lakukan) menyimpang
dari jalan yang benar. Di antara mereka juga ada yang beramal berdasarkan
hadits-hadits yang palsu tanpa disadarinya karena dangkalnya ilmu agama.
Kemudian datanglah generasi-generasi setelah mereka yang mulai membicarakan
(keutamaan) lapar, miskin dan bisikan-bisikan jiwa, bahkan mereka menulis
kitab-kitab (khusus) tentang masalah ini, seperti (tokoh sufi yang bernama) Al
Harits Al Muhasibi.
Lalu datang generasi selanjutnya yang
mulai merangkum dan menghimpun mazhab/ajaran tasawuf dan mengkhususkannya dengan
sifat-sifat khusus, seperti Ma’rifah (mengenal Allah dengan sebenarnya)(??!),
Sama’ (mendengarkan nyanyian dan lantunan musik), Wajd (bisikan jiwa), Raqsh
(tari-tarian) dan Tashfiq (tepukan tangan), kemudian ajaran tasawuf terus
berkembang dan para guru thariqat mulai membuat aturan-aturan khusus bagi mereka
dan membicarakan (membangga-banggakan) kedudukan mereka (orang-orang ahli
tasawuf), sehingga (semakin lama mereka semakin jauh dari petunjuk) para ulama
Ahlusunnah, dan mereka mulai memandang tinggi ajaran dan ilmu mereka (ilmu
tasawuf), sampai-sampai mereka namakan ilmu tersebut dengan ilmu batin dan
mereka menganggap ilmu syari’at sebagai ilmu lahir??!
Dan di antara mereka karena rasa lapar
yang sangat hingga membawa mereka kepada khayalan-khayalan yang rusak dan
mengaku-ngaku jatuh cinta dan kasmaran kepada Al Haq (Allah ‘Azza wa Jalla
), (padahal yang) mereka lihat dalam khayalan mereka adalah seseorang yang
rupanya menawan yang kemudian membuat mereka jatuh cinta berat (lalu mereka
mengaku-ngaku bahwa yang mereka cintai itu adalah Allah ‘Azza wa Jalla ).
Maka mereka ini (terombang-ambing) di antara kekufuran dan bid’ah, kemudian
semakin banyak jalan-jalan sesat yang mereka ikuti sehingga menyebabkan rusaknya
akidah mereka, maka di antara mereka ada yang menganut keyakinan Al Hulul, juga
ada yang menganut keyakinan Wihdatul Wujud, dan terus-menerus Iblis
menyesatkan mereka dengan berbagai bentuk bid’ah (penyimpangan) sehingga mereka
menjadikan untuk diri-diri mereka sendiri tata cara beribadah yang khusus (yang
berbeda dengan tata cara beribadah yang Allah ‘Azza wa Jalla syari’atkan
dalam agama islam).” (Kitab Talbis
Iblis, tulisan Ibnul Jauzi hal. 157-158).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah ketika
beliau ditanya tentang sekelompok orang yang mengatakan bahwa diri mereka telah
mencapai tingkatan bebas dari kewajiban melaksanakan syariat, maka beliau
menjawab: “Tidak diragukan lagi –menurut pandangan orang-orang yang berilmu dan
orang-orang yang beriman– bahwa ucapan ini adalah termasuk kekufuran yang paling
besar, bahkan ucapan ini lebih buruk daripada ucapan orang-orang Yahudi dan
Nasrani, karena orang-orang Yahudi dan Nasrani mereka mengimani sebagian (isi)
kitab suci mereka dan mengingkari sebagian lainnya, dan mereka itulah orang-orang kafir yang
sebenarnya, dan mereka juga membenarkan perintah dan larangan Allah ‘Azza wa
Jalla , meyakini janji dan ancaman-Nya…
Kesimpulannya: Bahwa
Orang-orang Yahudi dan Nasrani yang berpegang pada ajaran agama mereka yang
telah dihapus (dengan datangnya agama islam) dan telah mengalami perubahan dan
rekayasa, mereka ini lebih baik (keadaannya) dibandingkan orang-orang yang
menyangka bahwa mereka telah bebas dari kewajiban melaksanakan perintah Allah
‘Azza wa Jalla secara keseluruhan, karena dengan keyakinan tersebut
berarti mereka telah keluar dari ajaran semua kitab suci, semua syariat dan
semua agama, mereka sama sekali tidak berpegang kepada perintah dan larangan
Allah ‘Azza wa Jalla , bahkan mereka lebih buruk dari orang-orang musyrik
yang masih berpegang kepada sebagian dari ajaran agama yang terdahulu, seperti
orang-orang musyrik bangsa Arab yang masih berpegang pada sebagian dari ajaran
agama nabi Ibrahim ‘alaihi salam… Dan di antara mereka ada yang
berargumentasi (untuk membenarkan keyakinan tersebut) dengan firman Allah
‘Azza wa Jalla :
“Sembahlah Rabbmu
sampai datang kepadamu sesuatu yang diyakini (kematian)” (QS. Al Hijr:
99)
Mereka berkata makna ayat di atas
adalah, “Sembahlah Rabbmu sampai kamu (mencapai tingkatan) ilmu dan
ma’rifat, dan jika kamu telah mencapainya maka gugurlah (kewajiban melaksanakan)
ibadah atas dirimu…” (pada hakikatnya) ayat ini justru
menyanggah (keyakinan) mereka dan tidak membenarkannya. Hasan Al Bashri berkata:
“Sesungguhnya Allah tidak menjadikan bagi amalan orang-orang yang beriman batas
akhir kecuali kematian, kemudian Hasan Al Bashri membaca ayat tersebut di atas.
Dan makna “Al Yaqin” dalam ayat tersebut adalah “Al Maut” (kematian) dan
peristwa-peristiwa sesudahnya, (dan makna ini) berdasarkan kesepakatan semua
ulama Islam, seperti yang juga Allah ‘Azza wa Jalla sebutkan dalam
Firman-Nya:
“Apa yang menyebabkan kamu (wahai
orang-orang kafir) masuk ke dalam Saqar (neraka)?, mereka menjawab: Kami dahulu
(di dunia) tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak
(pula) memberi makan orang miskin, dan kami ikut membicarakan yang bathil
bersama orang-orang yang membicarakannya, dan kami mendustakan hari pembalasan,
hingga datanglah pada kami sesuatu yang diyakini
(kematian).”
(QS. Al Muddatstsir: 42-47)
Maka (dalam ayat ini) mereka (orang-orang kafir) menyebutkan (bahwa
telah sampai kepada mereka Al Yaqin/kematian) padahal mereka termasuk penghuni
neraka, dan mereka ceritakan perbuatan-perbuatan mereka (yang menyebabkan mereka
masuk ke dalam neraka): meninggalkan shalat dan zakat, mendustakan hari
kemudian, membicarakan yang batil bersama orang-orang yang membicarakannya,
sampai datang pada mereka Al Yaqin (kematian)…yang maksudnya adalah: datang
kepada mereka sesuatu yang telah dijanjikan, yaitu Al Yaqin (kematian).”
(Majmu’ Al
Fatawa 401-402 dan
417-418).
Maka ayat tersebut di atas jelas
sekali menunjukkan kewajiban setiap orang untuk selalu beribadah sejak dia
mencapai usia dewasa dan berakal sampai ketika kematian datang menjemputnya, dan
tidak ada sama sekali dalam ajaran islam apa yang dinamakan tingkatan/keadaan
yang jika seseorang telah mencapainya maka gugurlah kewajiban beribadah atasnya,
sebagaimana yang disangka oleh orang-orang ahli tasawuf.
*****
HAKIKAT TASAWUF
Oleh :Ustadz Abdullah Taslim, Lc.
(Mahasiswa S2 Pasca Sarjana Universitas Islam Madinah)
Kunjungi juga:

Komentar
Posting Komentar